Pesawat Sukhoi SJ100 Korban CFIT?
Henry JJ Sumolang Pilot
SEJAK pemberlakuan ketentuan pemasangan alat terrain awareness and
warning system (TAWS) pada semua pesawat bertenaga turbin, Maret 2000,
kecelakaan controlled flight into terrain (CFIT) menjadi berkurang
sangat signifi kan.
Sejak 10 tahun terakhir bahkan tidak pernah terdengar ada pesawat modern
dengan teknologi navigasi canggih menabrak gunung.
Yang dimaksud CFIT ialah pesawat terbang dengan keadaan laik terbang di
bawah kendali penerbang berkualifi kasi, terbang secara tidak disengaja
menuju medan rendah atau tinggi (terrain), rintangan (obstacle) atau air
tanpa kesadaran dari penerbang akan datangnya bahaya tabrakan.
CFIT selalu diatributkan pada kesalahan manusia (baca: pilot). Namun,
pesawat yang mengalami kerusakan/gangguan teknis sebelum terjadi
kecelakaan tidak termasuk kecelakaan CFIT. Contohnya, kasus B737-300
Adam Air yang 'menabrak' lautan. Contoh lain ialah pesawat yang laik
terbang, tetapi diterbangkan pembajak dan dengan sengaja ditabrakkan ke
sebuah rintang an, tidak pula dapat dikategorikan sebagai CFIT.
CFIT yang selalu dikorelasikan dengan 'human error' telah membuat
masygul para otoritas dan lembaga pener
bangan dunia. Flight Safety Foundation berpartner dengan otoritas
penerbangan di Amerika dan Eropa melakukan riset serta merekomendasi
perbaikan sistem navigasi dan memperkuat kemampuan penerbang mengenai
terrain situational awareness atau kesiagaan situasi medan rintangan
untuk mengurangi kecelakaan CFIT.
Rekomendasi itulah yang kemudian mengharuskan pemasangan TAWS (sistem
kesiagaan medan rintangan dan peringatan) pada setiap pesawat bertenaga
turbin.
Di Indonesia, beberapa tahun lalu Dirjen Perhubungan Udara telah
mengharuskan ketentuan tersebut bagi seluruh pesawat beregistrasi
Indonesia. Pemasangan TAWS atau pemodifikasian sistem lama akan sangat
membantu pilot untuk bersiaga dengan keadaan medan rintangan yang ada di
sekitarnya.
GPWS, alat pencegah CFIT Ground proximity warning system (GPWS) atau
sistem peringatan kedekatan pada permukaan tanah akan memberikan
peringatan suara `aural' apabila pesawat mendekati permukaan tanah
dengan kecepatan yang tidak lazim.
Apabila pesawat mendekati gunung, alat `radio altimeter' pengukur
ketinggian dengan gelombang radio akan mengi rimkan sinyal kepada
komputer yang akan memperhit tungkan kecepatan mendekat p pesawat ke
tanah. Bila kecepatan tersebut terdeteksi tidak normal (bergantung pada
konfigurasi pesawat, apakah dalam konfigurasi mendarat atau jelajah),
komputer akan mengirimkan peringatan aural (hanya aural) suara digital
`terrain, terrain, pull up!' agar pilot bermanuver untuk menghindari
impact dengan tanah. Sayangnya, sistem lama ini hanya mengandalkan radio
altimeter dan hanya dapat `melihat' ke bawah. Bagi gunung atau bukit
yang dari kaki ke puncaknya mempunyai ketinggian bertahap (gradual),
sistem ini sangat efektif. Akan tetapi apabila gunung mempunyai
ketinggian curam, sistem ini sangat tidak dapat diandalkan.
Juga, kesalahan pilot di dalam 'mengeset' altimeter berkontribusi
terhadap kelemahan sistem ini. Demikian pula teng
gat reaksi bagi pilot untuk melakukan manuver keluar dari situasi
mengancam ini hanya tersedia 15-20 detik sejak peringatan berbunyi.
Persoalannya, meski sudah dilengkapi GPWS, mengapa kecelakaan CFIT masih
tetap terjadi? Dari hasil penelitian terhadap kecelakaan diketahui,
waktu 20 detik sangat tidak memadai. Pun karena sering mengalami 'false
warning',
sistem ini akan membuat pilot berpikir apakah itu peringatan betulan
atau hanya false warning? Ditambah lagi, apabila pilot merasa yakin
posisi pesawatnya benar, diperlukan kurang lebih 8 sampai 10 detik bagi
pilot untuk berpikir dan bereaksi, padahal itu sudah sangat terlambat.
Ditemukan, hampir pada seluruh kecelakaan CFIT yang menggunakan sistem
ini, semua tuas gas mesin dalam keadaan `tancap gas' saat impact, yang
berarti pilot sudah sempat bereaksi untuk keluar dari situasi mengancam
tadi, tapi terlambat.
Benda ajaib EGPWS Akibat statistik kecelakaan CFIT ma sih tetap tinggi,
d i luncurkanlah GPWS generasi baru, yaitu enhanced ground proximity
warning system (EGPWS) atau sistem peringatan kedekatan pada permukaan
tanah yang diperkaya.
EGPWS mengombinasikan database kontur pemukaan bumi (terrain map
database), global positioning system (GPS), database alat bantu navigasi
darat dan posisinya, database bandara di seluruh du
nia, pengintegrasian dengan on board flight management computer,
inertial reference system, dan internal area navigation system.
Pengayaan ini diperkuat lagi dengan display glass cockpit, dan sistem
yang menggunakan liquefied crystal display (LCD) dengan resolusi tinggi
untuk instrumentasi kokpit. Dengan kata lain, EGPWS menjadi alat ajaib
yang nyaris sempurna dan sangat membantu pilot di dalam kewaspadaan
terhadap rintangan yang ada di sekitar pesawatnya dan menghindari CFIT.
Dengan sistem yang mutakhir ini, komputer akan mengeplot peta dan
gambaran keadaan rintangan (terrain) yang ada di hadapan pesawatnya pada
instrumen ND (navigation display) apabila terrain on ND di-'ON'-kan.
Apabila pesawat terbang berada pada ketinggian rendah, sistem EGPWS akan
memberikan peringatan `visual' melalui gambar puncak gunung ter tinggi
dari hijau berubah ggi dari hijau berubah menjadi kuning. Apa bila
komputer mem prediksi pesawat mempunyai arah yang berpotensi akan
terbang ke rintangan di depannya, muncul pering depannya, muncul
peringatan aural berupa suara digital dengan intonasi rendah `caution
terrain' untuk menyadarkan pilot. Seandainya pilot tidak menghiraukan
peringatan pertama dan pesawat semakin mendekat pada rintangan di depan,
muncul suara aural dengan intonasi sedang `terrain terrain'. Bila karena
sesuatu sebab pilot masih tetap tidak menyadari dan masih tetap
menurunkan pesawatnya, dan komputer memperkirakan segera akan terjadi
impact, peringatan aural dengan intonasi tinggi akan berteriak `terrain
terrain, pull up!' berulang kali, disertai menyalanya lampu merah di
hadapan kedua pilot serta pada instrumen terbangnya akan muncul tulisan
merah besar `terrain'.
Bila terjadi peringatan aural demikian, yang harus dilakukan pilot ialah
bereaksi secepat kilat dengan `tancap gas' maksimum pada seluruh mesin
yang ada (ibarat kendaraan mobil tancap gas sampai pedal gas mentok di
lantai), menaikkan moncong pesawat semaksimal mungkin untuk menambah
ketinggian pesawat secepatnya agar terhindar dari tabrakan dengan gunung.
Tidak seperti GPWS yang cuma melihat ke bawah, EGPWS mempunyai kemampuan
`melihat' ke depan. Dengan mengombinasikan semua data peta gunung yang
ada pada komputer, radar, posisi pesawat, dll, apabila terjadi
peringatan `terrain terrain, pull up', pilot mempunyai waktu 60 detik
yang sangat memadai untuk melakukan manuver menghindar. Kemampuan lain
EGPWS ialah, apabila pilot tidak menyalakan terrain on ND, kemudian
komputer mendeteksi ada potensi menabrak gunung, gambar gunung rintangan
akan otomatis keluar (pop-out). Demikian pula apabila pilot lupa
menyalakan sistem aural warning, EGPWS tetap akan `berteriak' jika
terjadi keadaan bahaya tabrakan. Akan tetapi, semua kecanggihan ini
sangat bergantung pada kecakapan dan kompetensi pilot dalam bereaksi.
Karena itu, diperlukan pelatihan rutin bagi setiap pilot untuk melatih
kemampuannya dalam menghadapi keadaan potensi CFIT. (bersambung)
http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/16/ArticleHtmls/Pesawat-Sukhoi-SJ100-Korban-CFIT-16052012012020.shtml?Mode=1
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.