Selasa, 15 Mei 2012

[Koran-Digital] Henry JJ: Pesawat Sukhoi SJ100 Korban CFIT?

Pesawat Sukhoi SJ100 Korban CFIT?

Henry JJ Sumolang Pilot



SEJAK pemberlakuan ketentuan pemasangan alat terrain awareness and

warning system (TAWS) pada semua pesawat bertenaga turbin, Maret 2000,

kecelakaan controlled flight into terrain (CFIT) menjadi berkurang

sangat signifi kan.



Sejak 10 tahun terakhir bahkan tidak pernah terdengar ada pesawat modern

dengan teknologi navigasi canggih menabrak gunung.



Yang dimaksud CFIT ialah pesawat terbang dengan keadaan laik terbang di

bawah kendali penerbang berkualifi kasi, terbang secara tidak disengaja

menuju medan rendah atau tinggi (terrain), rintangan (obstacle) atau air

tanpa kesadaran dari penerbang akan datangnya bahaya tabrakan.



CFIT selalu diatributkan pada kesalahan manusia (baca: pilot). Namun,

pesawat yang mengalami kerusakan/gangguan teknis sebelum terjadi

kecelakaan tidak termasuk kecelakaan CFIT. Contohnya, kasus B737-300

Adam Air yang 'menabrak' lautan. Contoh lain ialah pesawat yang laik

terbang, tetapi diterbangkan pembajak dan dengan sengaja ditabrakkan ke

sebuah rintang an, tidak pula dapat dikategorikan sebagai CFIT.



CFIT yang selalu dikorelasikan dengan 'human error' telah membuat

masygul para otoritas dan lembaga pener



bangan dunia. Flight Safety Foundation berpartner dengan otoritas

penerbangan di Amerika dan Eropa melakukan riset serta merekomendasi

perbaikan sistem navigasi dan memperkuat kemampuan penerbang mengenai

terrain situational awareness atau kesiagaan situasi medan rintangan

untuk mengurangi kecelakaan CFIT.



Rekomendasi itulah yang kemudian mengharuskan pemasangan TAWS (sistem

kesiagaan medan rintangan dan peringatan) pada setiap pesawat bertenaga

turbin.

Di Indonesia, beberapa tahun lalu Dirjen Perhubungan Udara telah

mengharuskan ketentuan tersebut bagi seluruh pesawat beregistrasi

Indonesia. Pemasangan TAWS atau pemodifikasian sistem lama akan sangat

membantu pilot untuk bersiaga dengan keadaan medan rintangan yang ada di

sekitarnya.

GPWS, alat pencegah CFIT Ground proximity warning system (GPWS) atau

sistem peringatan kedekatan pada permukaan tanah akan memberikan

peringatan suara `aural' apabila pesawat mendekati permukaan tanah

dengan kecepatan yang tidak lazim.

Apabila pesawat mendekati gunung, alat `radio altimeter' pengukur

ketinggian dengan gelombang radio akan mengi rimkan sinyal kepada

komputer yang akan memperhit tungkan kecepatan mendekat p pesawat ke

tanah. Bila kecepatan tersebut terdeteksi tidak normal (bergantung pada

konfigurasi pesawat, apakah dalam konfigurasi mendarat atau jelajah),

komputer akan mengirimkan peringatan aural (hanya aural) suara digital

`terrain, terrain, pull up!' agar pilot bermanuver untuk menghindari

impact dengan tanah. Sayangnya, sistem lama ini hanya mengandalkan radio

altimeter dan hanya dapat `melihat' ke bawah. Bagi gunung atau bukit

yang dari kaki ke puncaknya mempunyai ketinggian bertahap (gradual),

sistem ini sangat efektif. Akan tetapi apabila gunung mempunyai

ketinggian curam, sistem ini sangat tidak dapat diandalkan.



Juga, kesalahan pilot di dalam 'mengeset' altimeter berkontribusi

terhadap kelemahan sistem ini. Demikian pula teng



gat reaksi bagi pilot untuk melakukan manuver keluar dari situasi

mengancam ini hanya tersedia 15-20 detik sejak peringatan berbunyi.



Persoalannya, meski sudah dilengkapi GPWS, mengapa kecelakaan CFIT masih

tetap terjadi? Dari hasil penelitian terhadap kecelakaan diketahui,

waktu 20 detik sangat tidak memadai. Pun karena sering mengalami 'false

warning',



sistem ini akan membuat pilot berpikir apakah itu peringatan betulan

atau hanya false warning? Ditambah lagi, apabila pilot merasa yakin

posisi pesawatnya benar, diperlukan kurang lebih 8 sampai 10 detik bagi

pilot untuk berpikir dan bereaksi, padahal itu sudah sangat terlambat.

Ditemukan, hampir pada seluruh kecelakaan CFIT yang menggunakan sistem

ini, semua tuas gas mesin dalam keadaan `tancap gas' saat impact, yang

berarti pilot sudah sempat bereaksi untuk keluar dari situasi mengancam

tadi, tapi terlambat.

Benda ajaib EGPWS Akibat statistik kecelakaan CFIT ma sih tetap tinggi,

d i luncurkanlah GPWS generasi baru, yaitu enhanced ground proximity

warning system (EGPWS) atau sistem peringatan kedekatan pada permukaan

tanah yang diperkaya.



EGPWS mengombinasikan database kontur pemukaan bumi (terrain map

database), global positioning system (GPS), database alat bantu navigasi

darat dan posisinya, database bandara di seluruh du



nia, pengintegrasian dengan on board flight management computer,

inertial reference system, dan internal area navigation system.

Pengayaan ini diperkuat lagi dengan display glass cockpit, dan sistem

yang menggunakan liquefied crystal display (LCD) dengan resolusi tinggi

untuk instrumentasi kokpit. Dengan kata lain, EGPWS menjadi alat ajaib

yang nyaris sempurna dan sangat membantu pilot di dalam kewaspadaan

terhadap rintangan yang ada di sekitar pesawatnya dan menghindari CFIT.

Dengan sistem yang mutakhir ini, komputer akan mengeplot peta dan

gambaran keadaan rintangan (terrain) yang ada di hadapan pesawatnya pada

instrumen ND (navigation display) apabila terrain on ND di-'ON'-kan.



Apabila pesawat terbang berada pada ketinggian rendah, sistem EGPWS akan

memberikan peringatan `visual' melalui gambar puncak gunung ter tinggi

dari hijau berubah ggi dari hijau berubah menjadi kuning. Apa bila

komputer mem prediksi pesawat mempunyai arah yang berpotensi akan

terbang ke rintangan di depannya, muncul pering depannya, muncul

peringatan aural berupa suara digital dengan intonasi rendah `caution

terrain' untuk menyadarkan pilot. Seandainya pilot tidak menghiraukan

peringatan pertama dan pesawat semakin mendekat pada rintangan di depan,

muncul suara aural dengan intonasi sedang `terrain terrain'. Bila karena

sesuatu sebab pilot masih tetap tidak menyadari dan masih tetap

menurunkan pesawatnya, dan komputer memperkirakan segera akan terjadi

impact, peringatan aural dengan intonasi tinggi akan berteriak `terrain

terrain, pull up!' berulang kali, disertai menyalanya lampu merah di

hadapan kedua pilot serta pada instrumen terbangnya akan muncul tulisan

merah besar `terrain'.



Bila terjadi peringatan aural demikian, yang harus dilakukan pilot ialah

bereaksi secepat kilat dengan `tancap gas' maksimum pada seluruh mesin

yang ada (ibarat kendaraan mobil tancap gas sampai pedal gas mentok di

lantai), menaikkan moncong pesawat semaksimal mungkin untuk menambah

ketinggian pesawat secepatnya agar terhindar dari tabrakan dengan gunung.



Tidak seperti GPWS yang cuma melihat ke bawah, EGPWS mempunyai kemampuan

`melihat' ke depan. Dengan mengombinasikan semua data peta gunung yang

ada pada komputer, radar, posisi pesawat, dll, apabila terjadi

peringatan `terrain terrain, pull up', pilot mempunyai waktu 60 detik

yang sangat memadai untuk melakukan manuver menghindar. Kemampuan lain

EGPWS ialah, apabila pilot tidak menyalakan terrain on ND, kemudian

komputer mendeteksi ada potensi menabrak gunung, gambar gunung rintangan

akan otomatis keluar (pop-out). Demikian pula apabila pilot lupa

menyalakan sistem aural warning, EGPWS tetap akan `berteriak' jika

terjadi keadaan bahaya tabrakan. Akan tetapi, semua kecanggihan ini

sangat bergantung pada kecakapan dan kompetensi pilot dalam bereaksi.

Karena itu, diperlukan pelatihan rutin bagi setiap pilot untuk melatih

kemampuannya dalam menghadapi keadaan potensi CFIT. (bersambung)



http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/16/ArticleHtmls/Pesawat-Sukhoi-SJ100-Korban-CFIT-16052012012020.shtml?Mode=1



--

"One Touch In BOX"



To post : koran-digital@googlegroups.com

Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com



"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus



Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun

- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu

- Hindari ONE-LINER

- POTONG EKOR EMAIL

- DILARANG SARA

- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau

Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------

"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.